GADIS DESEMBER 2019 (edisi 31 Desember)
Bukan akhir dari sebuah dekade benar menusuk kalbu. 31
desember tiba tanpa aba aba sebagai lambang dari segala yang selesai-belum
tentu tuntas. Ditengah keramaiannya, kau berdiri di garda paling depan, siap
berangkat dan melambaikan salam sampai perpisahan jika sewaktu waktu 00.01
datang. Tanggal 1 kemarin kau datang mengetuk ngetuk pintu rumahku, sembab dan
basah kuyup. Air mukamu menyimpan luka
dan kesedihan seakan akan badai telah menghirup habis segala kehidupan yang ada
di dalamnya. Tapi kali ini, di hari ke 31, di hari terakhir, kau malah tegak
lantang menjulang dengan angkuhnya, seakan akan
hendak menantang dan akhirnya mengecewakan siapapun dan apapun yang akan
mematahkanmu. Tapi malam ini, aku bersumpah, kau tidak terpatahkan.
Kau siap mematahkan.
Seperti biasa hari ini kostum mu lengkap. Gaun hitam
selutut, rambut pemberontakmu terurai lepas, anggur putih di tangan kanan,
gelora badai, bintang bintang, dan semesta. Kostum akhir tahunmu. Hari ini kita
berdiri lagi di lantai tertinggi gedung favorit akhir tahun mu. Ah, jika
kupikir kupikir hampir semua yang kita lakukan adalah tentangmu. Maka berani
kukatakan, bahwa semua sorak sorai yang terjadi di malam ini mungkin adalah persembahan alam kepadamu. Merayakan
sesuatu yang sentimentil untukmu,
abstrak untukku. Merayakan peleburan waktu bagimu, perpisahan bagiku.
Perspektif kita memang tidak pernah bisa segaris, walau tetap akhirnya sebaris.
“Kau tau, ada lelucon hebat yang semesta simpan
dibalik setiap akhir tahun” ucapmu membuka malam.
“oh ya?” pancingku sambil mengulum senyum.
“iya. Semua orang bercerita kisah-kisah yang hebat
tentang naik turun perjalanan hidup mereka satu tahun terakhir. Sibuk bercermin,
membuat puisi puisi perpisahan, membuat resolusi resolusi baru, menangisi
segala kehilangan dan pencapaian, menyusun strategi perubahan, dan hal hal
berbau emosional sekaligus trivial lainnya”. kau tertawa lepas
“apa aku kehilangan letak leluconnya?” pertanyaan
serta merta alis kananku yang terangkat kau balas gelengan kepala.
“Disitu letak leluconnya. Semesta mau mempermainkan
ide akan sebuah akhir dari sebuah masa adalah hal yang penting dan patut dibesar
besarkan kedalam benak semua kepala. Sesuatu yang istimewa dan bersejarah. Padahal
kau tau apa, ini semua hanyalah ilusi. Pada akhirnya semua hanya tentang
pergantian angka, tugasnya cuma untuk mengukur usia bumi. Tidak ada yang sentimentil.
Coba kau bayangkan, kalo kita semua melakukan hal hal yang seharusnya mendasar
ini setiap sebelum tidur di malam hari, bercermin, membuat resolusi, menyusun
strategi, dan seterusnya. Mungkin dunia lebih baik dari sekarang. Komikal kan”.
Kali ini giliran aku yang dibuatmu geleng geleng kepala
“Aku pikir ini memang sesuatu yang patut dirayakan. Kehidupan
seseorang adalah gelombang emosi yang nyata, pengembaraan yang bukan main main.
Harus ada suatu titik untuk kita semua berhenti sejenak, bersila kaki, menarik
dan menghela nafas, dan bercermin, mengapresiasi diri sendiri dan jalan lagi”.
“Dan itu harus dilakukan setiap akhir tahun kalender
gregorius?” tanyamu, senyum mu mengembang setengah, tanda kau mulai menikmati
perdebatan ini. Tanda bahwa kau akan mengalahkanku dalam perdebatan ini.
“Ya kenapa enggak? Toh sistem kalender itu yang sedang
kita gunakan sekarang”.
“Berarti kau adalah salah satu kepala yang berhasil
dipermainkan semesta. Kita memang perlu berhenti di suatu titik, bisa 5 tahun
sekali, bisa seminggu sekali, atau bahkan sehari sekali. Perayaan akhir tahun Cuma
satu dari sekian banyak alasan untuk melakukan perayaan. ga ada sesuatu yang
substansial” kau bersandar pada sudut balkon, tangan kananmu mengarahkan bibir
cangkir ke bibirmu sendiri menyeruput cairan alcohol di dalamnya perlahan.
“Anggap aku setuju sama semua pemikiran sinis realistis
itu, terus apa yang kau lakukan selama ini? Kau satu satunya orang yang aku
kenal yang paling ekstra melakukan perayaan akhir tahun dari segi apapun”. Mataku
mengunci matamu, menantang.
Sudut sudut bibitmu terangkat lepas, bebas sekali. Jenis
senyum spontan mu, tanpa rancangan, konsep atau skenario seperti biasa. Dan jantungku,
sekali lagi, melewatkan satu dua detakkannya.
“Aku disini untuk ini semua,..” kedua tanganmu
terangkat, mengarah ke semua yang terjadi disekelilingnya. “aku disini untuk
euforianya, untuk pantulan warna warni kembang apinya, untuk semua yang terjadi,..
untuk lelucon semesta, untuk peleburan waktu, dan untuk akhir dari desember,..”
nafasmu tercekat, senyummu yang liar perlahan menipis, sebelum akhirnya kau
melanjutkan, “akhir hubungan kita”.
Dan disitulah bagaimana kau menapakkan kedua kakiku ke
tanah.
“Ah, hubungan Desember” angguk ku. Kumasukkan kembali
kedua tanganku ke saku celana, langkahku bergeming menujumu.
“Boleh aku Tanya sesuatu?” tanyaku ragu ragu,
menggaruk garuk kulit kepala yang tidak gatal, khas anak SMP.
“Ayolah, engga dengan pertanyaan bodoh klise itu”
tawamu
“Baik, baik. Maaf salah langkah” aku ikut tertawa,
bodoh sekali.
“Aku ramal ini pertanyaan yang penting, sampe kikuk
gitu” kau menggigit bibirmu, menahannya agar tak tersenyum. Sialan.
“Ya tergantung. Penting buatku biasanya tidak untukmu”
kemudian aku menarik nafas, kau menunggu.
“Apa yang terjadi antara kau, desember, dan malam
peleburan tahun?”
Dan seketika matamu ramai dan hampa disaat bersamaan. Kerikil
ku tepat sasaran.
Tubuhmu berputar arah, menghadap ke arah hikuk pikuk
kehidupan malam akhir tahun dibawah, seperti yang telah aku prediksi kau
mengunciku lagi. Pada detik ini sayup sayup musik tahun baru sudah dimulai.
“Ada. Selalu ada yang terjadi antara aku, desember,
dan akhir tahun” jawabmu terdengar jauh
“bukan itu pertanyaanku”
Lalu hening lama.
“baik, mari kita ganti pertanyaannya. Mengapa harus
hubungan Desember jika kita bisa punya 11 bulan lainnya?” akhirnya kuberanikan
diri sekali lagi menyela keheningan ditengah bunyi petasan, terompet, gelak
tawa manusia manusia yang merayakan akhir tahun. Pertanyaan itu membuatmu
kembali berbalik arah kepadaku. Mengembalikan senyummu ke tempatnya.
“Karena desember adalah segala yang hidup, 11 bulan
lainnya tidak penting. Aku di 11 bulan lainnya bukan aku yang kau kenal. Dan aku
berani bertaruh, kau di 11 bulan lainnya akan menjadi kau yang tidak ku kenal. Lalu
apapun yang pernah kita berdua kecap dan bagi sama rasa akan perlahan habis dan
mati sama sekali”. Kepercayaan dirimu yang membara saat mengatakannya,
mematahkan hatiku sedikit lebih dalam.
“Itu sama sekali tidak masuk akal, namun segala
tentangmu memang seringnya diluar nalar”. Untuk ini kau hanya mengangkat gelas
anggurmu gestur bersulang.
“Lalu bagaimana jika ku katakan, aku mau hubungan ini
berakhir. Aku lelah menanti nanti Desember datang, aku lelah menebak nebak
badai di kepalamu. Aku lelah mengorbit kepadamu. aku lelah merindukanmu secara
konstan, aku mau masuk sama sekali atau tidak sama sekali. Aku mau seluruhmu
atau tidak sama sekali”. Entah mengapa pengakuan kali ini luar biasa melegakan
walau sesuatu yang patah pada badai dimatamu sangat menggangguku. Ternyata aku
memiliki sedikit efek juga pada badaimu. Namun hal itu hanya terjadi
sepersekian detik sebelum akhirnya kau menutup segala emosi yang terjadi
disana. Membekukannya.
“Baiklah jika itu yang kau mau. Aku bisa apa” kau
tersenyum simpul. Palsu dan dingin sekali sampai aku menggigil.
“Ah jangan keluarkan omong kosong itu”. Nadaku sedikit
meninggi
“Omong kosong apa?”
“Omong kosong seakan akan aku mematahkan hatimu. Seakan
akan kau memiliki kemampuan untuk patah hati. Lupakah kau siapa yang hobinya
mematahkan disini?” semua sakit yang kurasakan seakan akan bertransformasi
menjadi amarah. Kerikil kerikil yang pernah ku lempar bersatu membentuk suatu
kesatuan yang besar dan tajam.
Lalu kau menghindari mataku, berbalik arah menatap
segala kekacauan sistematis yang terjadi di depanmu. Namun tampaknya kita berdua merasakan hal yang
sama. Tidak ada lagi euforia akhir tahun, yang ada hanya aku, kau dan bunyi
bunyi hati yang rusak.
23.59
“Baiklah, pertanyaan terakhir” lanjutku
“Apa yang terjadi padamu 1 desember kemarin? Sesuatu pasti
terjadi”.
Aku butuh penyelesaian. Sebersih bersihnya. Serampung rampungnya.
Maka harus kuhabiskan semua kerikil tentangmu yang ada di kepala.
Kau menarik nafas panjang nan berat, matamu menemuiku
lagi. Kali ini kau tidak bersusah payah menyembunyikan gelombang emosi yang
terjadi. Sudut sudutnya mulai berair, mencekatku.
“Ibuku meninggal”. Jawabmu singkat
00.00
Waktu masih terhenti dan bergoncang begitu hebatnya di
semestaku, saat kau mengucapkan mantra mantramu,
“Kita sedang berada di peleburan batas waktu”
Senyummu kecut, air matamu masih disana.
“Selamat datang di sebuah prolog”
Comments
Post a Comment