Prosa kemarin

RIMBA DAN KETAKUTAN

Rimba hidup diantara peluru peluru, yang melesat ke sana sini dengan kecepatan cahaya. Pandangannya jadi buram. Entah karena kilatan kalang kabut peluru atau oleh air matanya sendiri. Moncong pelor pelor itu selalu menyerang satu sama lain membidas ke segala arah, tanpa ampun. Berdentang berdenting. Bising. Telinganya hampir pekak. Matanya hampir buta. Tapi kau harus lihat hatinya! Bagian yang paling mengkhawatirkan. Isinya hanyalah tentang ketakutan ketakutan dan prasangka prasangka kelam tanpa ampun. Seperti pusaran air ditengah samudra lautan dalam tak berkalang. Ia takut, begitu takut. Begitu takut. Takut akan ada hari dimana salah satu dari moncong peluru itu akhirnya menggoresnya juga. Atau bahkan lebih buruk lagi menghujam tepat di jantungnya. Jangan salah, Rimba tak takut mati. Ia hanya takut akan ide peluru peluru yang saling perang itu akan menjadi penyebab kematiannya. Sungguh tidak ada yang lebih buruk daripada takut akan ketakutan itu sendiri. Oleh karena itu, hari harinya dipenuhi oleh prasangka prasangka yang mempengaruhi pula isi kepalanya. Isi kepalanya mempengaruhi juga tangan dan kakinya, mempengaruhi segala tindak tanduknya, mempengaruhi terang atau gelap langitnya sendiri. Prasangka prasangka itu buat dia gila. Buat dia hancur. Ah,.. peluru peluru sialan!
Setiap mili detik Ketakutan ketakutan di kepalanya kian membesar. Kini sudah mulai menyerupai monster yang menjadi momok dalam jiwanya. Terkungkung. Jiwa yang terpenjara. Kini pula sebelum ia bertindak, entah itu menggerakkan ekornya atau memajukan moncongnya, ia selalu bertanya Tanya, apakah harus melangkah maju atau mundur. Apakah harus diam atau bergerak. Momok itu menguasai tiap sudut relung syarafnya tanpa  ampun. Terlalu banyak bertanya dan berprasangka, Rimba lupa untuk hidup. Jika otak memiliki warna, maka hitamlah warna otaknya saat ini. Disebabkan dari kenegatifan yang tak kunjung habis. Seperti lautan ditengah kelam malam yang mengamuk. Memorakporandakan semua yang  singgah di permukaannya. Dalam kasus ini, Rimba lah kapal yang setengah sekarat dihabisi ombak dari laut kenegatifan itu. Kacau. Rimba takut. Rimba lupa hidup. Jika saja Rimba sadar bahwa ia juga sebutir peluru. Mungkin ia tidak akan sekalut ini, atau malah lebih kalut. Entahlah.. Rimba begitu negatif. Dan siapa yang tahu apa saja tantangan tantangan yang dihadapi sebutir peluru yang terlalu negatif untuk kebaikannya sendiri. Jika saja Rimba sadar, bahwa semua peluru yang kalang kabut ini juga penakut. Takut akan bertabrakan. Takut akan saling menghancurkan. Takut akan dihancurkan. Entah dihancurkan satu sama lain atau oleh sang maha agung ‘waktu’. Namun menjadi penakut dan ketakutan adalah hal yang berbeda. Tentu saja Rimba tidak tahu itu. Karena Rimba begitu takut. Takut akan mencari. Takut akan mengakui bahwa dirinya takut. Takut akan ketidak amanan.  Rimba ketakutan. Sehingga ketakutan telah menjadi teman setianya. Jika saja Rimba bisa melawan monster di kepalanya. Mungkin sekarang ia adalah satu dari jutaan peluru peluru yang melesat ke segala arah. Atau mungkin juga dia telah menghantam beberapa peluru sampai jatuh. Atau malah dia telah lama mati akibat hantaman keras peluru lain. Apapun itu,.. apapun kemungkinannya, semua lebih baik daripada diam dan ketakutan menunggu nasib menjemput. Lebih baik hidup daripada sekedar sadar. Lebih baik mati sama sekali daripada takut hidup.
Jangan telalu difikirkan. Tentu saja semua ini hanyalah metafora.
Rimba sang peluru dan malam. 

Comments